Pengrajin Wanua Bangkung, Seniman Ukir Yang Otodidak

INSPIRASI, Pinrang — Orang Bugis memang tidak mempunyai budaya ukir seperti beberapa suku lainnya di Indonesia, seperti Jawa dengan ukiran khas Jepara, atau Ukiran Bali, sampai kepada ukiran tradisional pada Suku Asmat Papua atau Dayak di Kalimantan.

Namun ternyata segelintir orang Bugis mempunyai seni ukir yang muncul secara otodidak. Hal itu terlihat dari salah satu kerajinan tangan untuk membuat gagang dan warangka senjata tajam sejenis Parang atau golok dan Badik (senjata tradisional suku bugis), atau biasa dikenal dengan nama Pakkibua’ Wanua Bangkung.

Screenshot_2017-09-15-16-45-45_1

La Ciping, salah satu pengrajin Wanua Bangkung yang berdomisili di Lingkungan Lerang-Lerang Kelurahaan Benteng Sawitto Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang Sulsel, yang masih setia membuat dan menggeluti kerajinan ukir tersebut. Kepada Penulis dirinya mengaku jika keahlian ini didapatinya secara otodidak atau belajar sendiri dan menjadi pekerjaan sampingan,” saya hanya mengerjakan jika ada yang memesan karena tidak setiap hari ada yang datang,” ujarnya.

Satu gagang lengkap dengan warangka kata Ciping dibuat dalam waktu dua hari tergantung motif dan pesanan pelanggan. Beberapa motif tersebut ada yang standar dengan motif ukir yang sederhana bahkan ada yang berbentuk kepala Naga, Burung, Ular dan motif hewan lainnya, ” rata-rata kami kenakan biaya Rp. 150 ribu sampai Rp. 1 juta tergantung motif dan tingkat kesulitannya,” kata dia.

Screenshot_2017-09-15-16-45-48_1

Belum lagi lanjut dia, jenis kayu yang dipilih untuk ukuran ini. Ada beberapa jenis kayu yang biasa digunakan untuk membuat kerajinan tersebut antara lain Kayu Cendana merah sampai kepada kayu hitam, salah satu jenis kayu yang sudah langka dan dilindungi,” banyak jenis kayu disini tapi kayu Cendana dan hitam banyak yang dipilih konsumen walaupun sangat susah didapatkan,” ungkapnya.

Namun demikian kerajinan ini masih sepi dari waktu ke waktu, La Ciping pun menerawang jauh, jika sejak tahun 90an hingga sekarang profesi ini sangat tidak menjanjikan dari segi ekonomi. Bayangkan lanjut dia untuk mendapatkan pesanan terkadang berbulan – bulan menunggu namun belum ada pemesan yang datang,” ini adalah profesi yang hanya digeluti sebagai selingan, karena sangat tidak menjanjikan,” lirihnya.

Kini La Ciping masih terlihat memoles bongkahan kayu saat penulis menemui dirinya, ada dua pesanan yang masuk hari itu, dan dengan cekatan tangannya memoles dan mengukir kayu dengan alat seadanya. Dia tidak bisa berkhayal kemapuan seni ukirnya akan sebanding dengan ukiran Jepara atau Bali, namun dia menjadi satu diantara ribuan suku Bugis yang dibekali keahlian mengukir, keahlian yang tidak menjadi ciri khas dari sukunya, namun jari jemarinya mampu memoles kayu tak terbentuk menjadi karya seni yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pakkibua Wanua Bangkung, seniman ukir otodidak yang tenggelam dari zaman ke zaman, bertahan diantara hiruk pikuk teknologi. (*)

Penulis : Udin. Ch