MUHAMMADIYAH…Gerakan Pembaharuan, Formalisme atau Substansi ?

ARSYAD YUNUS, ST M.Si Kader Muhammadiyah

INSPIRASI, PINRANG — Muhammadiyah sejatinya adalah gerakan pembaharuan (tajdid) yang digagas kurang lebih 100 tahun lalu oleh KH. Achmad Dahlan. Dalam pandangan sang Pembaharu ke-Islaman seseorang harus teruji pada wilayah empirik, dengan kata lain pemahaman dan keyakinan terhadap kebenaran ajaran Islam harus dilacak pada wilayah pengamalan.

Senada dengan Sang Kyai, Asgar Ali Engineer menyatakan bahwa kita tidak dapat memahami kepribadian orang yang beragama, tanpa mengetahui komitmen keagamaanya, yang terwujud dan tercermin dalam tindakan dan perilakunya. Sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah berada pada garda terdepan dalam membangun dialog dengan seluruh komponen umat, mengingat dialog merupakan elemen strategis dalam mewujudkan pembaharuan. Pentingnya dialog dalam mewujudkan pembaharuan diungkapkan oleh Stacey (2000) bahwa semua fenomena sosial dibentuk oleh adanya

keterhubungan dialogis antar masyarakat. Senada dengan Stacey, Bhaktin (1986) menyatakan bahwa dialog memiliki kemampuan yang tidak ada habisnya dalam menciptakan pembaharuan. Sebagai gerakan Da’wah yang menyerukan amar ma’ruf nahyi mungkar yang mengusung ide-ide perubahan dan pembaharuan (Tajdid), menempatkan

Muhammadiyah pada pusaran gerakan Islam yang mengedepankan nilai-nilai universal dengan tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW sebagai main reference. Muhammadiyah meyakini sepenuhnya bahwa salah satu bahaya terbesar yang mengintai peradaban manusia adalah kejumudan dan pendogmaan terhadap nilai-nilai sempit setiap keyakinan yang seharusnya bersifat sementara dan elastis, bahkan plastis terhadap perkembangan zaman. Warga Muhammadiyah harus memiliki keberanian dan kapasitas untuk memperhadapkan ajaran Islam dengan isu-isu kemanusiaan dan kebudayaan yang mewarnai peradaban manusia dewasa ini.

Sebagai gerakan tajdid Muhammadiyah merefleksikan dirinya sebagai gerakan kaum intelektual (ulil albab) atau kaum yang tercerahkan. Dalam pandangan MacGregor Burn ciri utama kaum intelektual adalah harus terlibat secara kritis dengan nilai-nilai, tujuan, dan cita-cita yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis. Kaum intelektual adalah mereka yang mencoba membentuk lingkungannya dengan gagasan analitis dan normatif. Mengacu pada penjelasan tersebut, intelektual sangat tidak terkait dengan gelar kesarjanaan ataupun jenjang pendidikan tertentu. Kaum Intelektual adalah mereka yang memahami persoalan kaumnya, dan berada bersama dengan kaumnya bergerak melakukan perubahan menuju tatanan yang lebih manusiawi, adil dan bermartabat .

Konsekuensi sebagai komunitas intelektual, dalam merespon berbagai persoalan umat, Muhammadiyah sejatinya menampilkan dan memberikan penilaian atas fakta sebagaimana yang seharusnya, bukan sebagaimana adanya, yang dalam terminology Marxis dikenal sebagai Intelektual Organik. Menarik apa yang disampaikan ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) periode 2015-2020 bahwa dalam mengelola persyarikatan dan berbagai amal usaha, Muhammadiyah hendaknya mengacu pada, dan mengedepankan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas dan memperhatikan kaidah-kaidah organisasi. Pengelolaan amal usaha yang tidak transparan, tidak akuntabel, dan mengabaikan kaidah-kaidah persyarikatan, akan menjerumuskan amal usaha Muhammadiyah ke dalam jebakan kapitalisasi yang cenderung mereduksi serta mendistorsi nilai-nilai ke-Islaman dan ke- Muhammadiyahan.

Olehnya itu sebuah keharusan bagi Muhammadiyah membangun tatanan yang berkualitas. Mappadjantji Amin menjelaskan bahwa tatanan yang berkualitas harus didesain sedemikain rupa untuk membantu kita beralih dari mentalitas transaksional ke mentalitas berelasi. Mappadjanjti lebih lanjut menjelaskan bahwa organisasi seharusnya dikelola dengan lebih mengedepankan partisipasi dan dialog dibandingkan semangat pengendalian yang ketat sebagaimana yang lazim di praketkkan selama ini.

Dalam pidatonya Ketua PDM periode 2015-2020 juga menyatakan perlunya membangun semangat kerjasama yang didasari niat yang tulus-ikhlas. Semangat kerjasama akan memudahkan kita mengembangkan keterampilan berpikir bersama (shared thinking). Keterampilan ini menurut Maxwell (2003), akan membuka peluang kita meraih pemikiran-pemikiran hebat, inovatif, dan matang, yang sulit kita temukan dengan berpikir sendiri. Kekuatan berpikir bersama itulah begitu mempesona Ken Blanchard yang mengantarkannya pada suatu kesimpulan bahwa “tidak ada seorang pun secerdas kita bersama-sama”

Ditengah gelombang perubahan yang berlangsung cepat dan massif diperlukan kontekstualisasi ajaran Islam. Gagasan kontekstualisasi ini penting dikemukaan, agar Muhammadiyah tidak kehilangan ruh pembaharuan dan terjebak pada formalisme gerakan dan romantisme masa lalu yang cenderung menumpulkan potensi daya kritis persyarikatan dalam merespon isu-isu kekinian sebagai jawaban Islam atas persoalan umat manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, Kuntowijoyo menawarkan internalisasi sebagai anti tesis formalisme ajaran Islam. Dalam pandangan Kuntowijoyo, internalisasi dipandang lebih mampu membumikan ajaran Islam dan mewujudkan misi besar Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Internalisasi tidak mengharuskan ajaran  islam dihadirkan dengan menggunakan simbol-simbol Islam secara formil, sehingga orang merasa melakukan sesuatu yang wajar tanpa terbebani dengan symbol-symbol Islam yang bersifat formalistik. Sastrawan Rabinranath Tagore dengan ungkapan puitis menyatakan “buang namaku dari lagu itu, jika itu mengganggu, namun jangan lupakan tembangku”

Mengakhiri tulisan ini, hendaknya kita konsisten (istiqamah) berpegang pada nilai-nilai kebenaran. Kebenaran merupakan basis utama untuk menjaga keberlangsungan kehidupan individu serta menjalin dan mengembangkan interkoneksitas dengan individu lain dalam jalinan sebuah organisasi dan atau tatanan lainnya. Mahluk yang tidak mampu menemukan dan berpegang kepada kebenaran akan punah. Pentingnya berpegang teguh pada kebenaran diungkapkan oleh Morris (2003), yang mengutip satu kajian evolusioner tentang kehidupan, menyatakan bahwa mekanisme adaptif yang paling mendasar dalam kehidupan adalah berpegang kepada kebenaran. Nun wal qalam wama yasturun

Penulis : ARSYAD YUNUS

Tulisan ini dimaksudkan sebagai Ungkapan Syukur dan Ucapan Selamat Atas pelantikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Pinrang periode 2015-2020.  Pinrang 27 Rajab 1437 H, 7 Mei 2016 M

1 Comment

  1. Tika

    8 Mei 2016 at 13:51

    Assalamu Alaikum Wr.Wb.
    Trims di ucapkan kpd Penulis atas ide,buah pikiranx, ttg Muhammadyah.
    Bagi Muhammadiyah Kebenaran dari Fatwa, Ide, dan amalan pada prinsipx didasarkan oleh Al-quran & Sunnah dan tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia…
    Kpd (Bpk Arsyad Yunus) Teruslah mnuliskan buah2 Pikiranx ttg Muhannmadyah.
    Wassalam